HIDUP HANYA SEKALI DAN BELUM TENTU LAMA, TIDAK ADA YANG MENJAMIN BESOK LUSA MASIH HIDUP, MARI KITA SELALU SHALAT BERJAMAAH DI MASJID SEBELUM DISHALATKAN. MINTA MAAFLAH..,MAAFKALAH SAUDARAMU, MINTA MAAFLAH DAN MAAFKANLAH SAUDARAMU
Rabu, 20 Juli 2016
Rabu, 22 April 2015
Rabu, 26 November 2014
Rabu, 08 Januari 2014
PAHALA TETAP MENGALIR DI ALAM KUBUR
Salah satu anugerah Allah yang besar terhadap
hamba-Nya adalah dengan memberikan kepada mereka pintu kebaikan dan kebajikan.
Jika seorang hamba melakukan amalan kebaikan dan kebajikan, maka ia mendapat
pahala kebaikan di dalam kehidupan dunia, dan juga pahala baginya setelah
kematian. Bagi penghuni kubur, amalan mereka telah terputus. Amalan yang telah
dilakukan selama hidupnya akan dihisab dan diberi pahala. Sementara ada pula
yang mendapatkan taufik di dalam kuburnya karena kebaikan dan pahala terus
mengalir kepadanya. Dia sudah tak lagi beramal, namun pahala baginya tidak
pernah terhenti, derajatnya diangkat, kebaikannya semakin tumbuh dan pahalanya
semakin berlipat ganda, padahal ia telah terbaring di dalam kuburnya. Alangkah
bahagianya orang yang demikian itu.
Nabi telah mengabarkan bahwa ada tujuh perkara
yang pahalanya akan tetap mengalir kepada manusia di dalam kuburnya setelah ia
meninggal. Dari Anas,ia berkata, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam
bersabda,
سَبعٌ يَجرِي لِلعَبدِ أَجرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبرِهِ بَعدَ مَوتِهِ مَن عَلَّمَ عِلْماً أَو أَجرَى نَهراً أو حَفَرَ بِئراً أَو غَرَسَ نَخلاً أَو بَنَى مَسجِداً أَو وَرَّثَ مُصحَفاً أَو تَرَكَ وَلَداً يَستَغفِرُ لَهُ بَعدَ مَوتِهِ
“Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap
mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah
wafatnya, Orang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali
sumur, menanam kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan
anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal.” (HR. al-Bazzar,
dinilai hasan oleh syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’)
Berikut beberapa penjelasan mengenai hadits
tersebut,
1.Mengajarkan Ilmu, yang dimaksud dengan
ilmu adalah, segala ilmu pengetahuan yang
Kamis, 19 Desember 2013
Keutamaan anak Perempuan
Ketika sepasang suami istri mendambakan
kelahiran sang anak, banyak yang mendambakan agar yang lahir nanti
adalah seorang lelaki sebagai penerusnya kelak. Ketika Allah Ta'ala
menakdirkan bahwa mereka diberi amanat untuk mendidik anak perempuan,
sebagian mereka pun bersedih, kecewa bahkan marah kepada sang istri yang
tak kunjung melahirkan anak laki-laki. Mungkin bagi yang sudah punya 2
putri akan mendambakan bahwa yang ketiga adalah laki-laki, sehingga
ketika yang terlahir adalah perempuan lagi, ada raut kecewa terpancar
dari mereka.
Hakikatnya kekecewaan seperti ini serupa dengan kaum Jahiliyah yang Allah Ta'ala kabarkan dalam firman-Nya, artinya, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. an-Nahl; 58-59)
Lalu Allah Ta'ala mencela perbuatan kaum Jahiliyah ini dengan firman-Nya, artinya, “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh,” (QS. at-Takwir: 8-9)
Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasallam pun bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas
Hakikatnya kekecewaan seperti ini serupa dengan kaum Jahiliyah yang Allah Ta'ala kabarkan dalam firman-Nya, artinya, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. an-Nahl; 58-59)
Lalu Allah Ta'ala mencela perbuatan kaum Jahiliyah ini dengan firman-Nya, artinya, “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh,” (QS. at-Takwir: 8-9)
Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasallam pun bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas
Fatimah Sang Wanita Terbaik
Fatimah Sang Wanita Terbaik
Fathimah adalah putri Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Salam. Ibunya bernama Khadijah binti Khuwalid Radhiyallahu anha, ibu kaum mukminin.
Fathimah dilahirkan tatkala kaum Quraisy tengah merenovasi Ka’bah lima tahun sebelum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam diutus sebagai Nabi.
Sejak masa kanak-kanak, dalam usia dini Fathimah Radhiyallahu anha telah memahami serangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy kepada ayahnya. Jika ayahnya bepergian, Fathimah Radhiyallahu anha mengikuti dan menyertai ayahnya. Akhirnya, terjadilah sesuatu peristiwa yang tak akan terlupakan. Suatu kali ayahnya sedang sujud di Masjidil Haram, sedangkan di sekelilingnya ada kaum musyrikin Quraisy. Datanglah Uqbah bin Abi Mu’ith membawa bangkai kambing. Dia melemparkannya ke punggung Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam tidak dapat mengangkat kepalanya hingga Fathimah datang dan menyingkirkan bangkai itu dan menyebutkan orang yang melakukannya. Saat itulah Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam menengadahkan kepala seraya berdoa, “Ya Allah, Engkau yang akan menghadapi pemuka Quraisy. Ya Allah, Engkau yang akan menghadapi Abu Jahal dan Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Uqbah bin Abi Mu’ith, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Muslim).
Pembaca yang budiman…
Setelah tiba saatnya menikah, ia pun dinikahkan oleh ayahnya dengan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu yang tidak lain adalah salah seorang keponakan beliau Shallallahu 'alaihi wasalam sendiri.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah suaminya, Fathimah Radhiyallahu anha mengetahui
Fathimah dilahirkan tatkala kaum Quraisy tengah merenovasi Ka’bah lima tahun sebelum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam diutus sebagai Nabi.
Sejak masa kanak-kanak, dalam usia dini Fathimah Radhiyallahu anha telah memahami serangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy kepada ayahnya. Jika ayahnya bepergian, Fathimah Radhiyallahu anha mengikuti dan menyertai ayahnya. Akhirnya, terjadilah sesuatu peristiwa yang tak akan terlupakan. Suatu kali ayahnya sedang sujud di Masjidil Haram, sedangkan di sekelilingnya ada kaum musyrikin Quraisy. Datanglah Uqbah bin Abi Mu’ith membawa bangkai kambing. Dia melemparkannya ke punggung Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam tidak dapat mengangkat kepalanya hingga Fathimah datang dan menyingkirkan bangkai itu dan menyebutkan orang yang melakukannya. Saat itulah Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam menengadahkan kepala seraya berdoa, “Ya Allah, Engkau yang akan menghadapi pemuka Quraisy. Ya Allah, Engkau yang akan menghadapi Abu Jahal dan Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Uqbah bin Abi Mu’ith, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Muslim).
Pembaca yang budiman…
Setelah tiba saatnya menikah, ia pun dinikahkan oleh ayahnya dengan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu yang tidak lain adalah salah seorang keponakan beliau Shallallahu 'alaihi wasalam sendiri.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah suaminya, Fathimah Radhiyallahu anha mengetahui
Langganan:
Postingan (Atom)












